Baca, dan pertimbangkan kembali kebanggaan Indonesia-mu!
Berikut beberapa kutipan dari kedua psoting tersebut:
Revolusi selalu memakan anak anaknya sendiri, termasuk dua tokoh ini. Soekarno terjebak dalam permainan ‘balancing’ kekuasaan antara komunis , nasionalis dan Islam. Meninggalkan hutang negara 2 milyar dollar yang sebagian besar berupa pembelian persenjataan dan pembangunan gedung dan proyek mercusuar. Menjadikan sebuah Indonesia yang besar di segani.
Soeharto menjadi Machiavelli, sebelum tergusur karena keserakahan. Meninggalkan hutang negara hampir 200 milyar dollar yang sebagian besar lari kepada kroni kroninya. Ironisnya membuat Indonesia menjadi bangsa paria, miskin dan terjajah kembali.
——————————————–
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
——————————————–
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia.